Tutup Mulut
Born to speak politically..

Mungkin slogan itu paling cocok kali yah buat aku. Setelah sekian lama tidak nge-post, eh bukannya menelorkan tutorial baru, malah aku kayaknya gatel untuk ngebahas masalah negaraku  sayang negaraku malang ini. Kali ini aku menyoroti begitu Super Power-nya Media Itu… Bagaimana tidak, kemana perginya kasus Bank Century, Kasus Pajak Gayus, dan masih banyak lagi kasus besar lainnya. Ibarat kabut tipis dipagi hari, semua kasus itu hilang lenyap seiring berlalunya waktu. Menurutku penyebab utama gampangnya kasus-kasus tadi menguap karena teralihkannya awak media baik “sengaja atau tidak sengaja”. Kenapa bisa sengaja? Semua juga tau dibalik berita itu  ada yang namanya “bisnis” (baca: uang). Dari zaman baheula sudah terjadi yang namanya transaksi antara pembuat berita dengan sumber berita. Baik itu pemberitaan baik ataupun buruk tetap akan melibatkan yang namanya uang, bedanya kalau pemberitaan baik biasanya si sumber berita yang berinisiatif membayar si pembuat berita, namun kalau pemberitaan buruk maka justru si pembuat berita yang berinisiatif untuk “meminta duit“. Tentunya kita semua pernah dengar istilah “uang tutup mulut bukan?” :) Mudah-mudahan raibnya kasus-kasus tadi bukan disebabkan oleh hal ini ya, soalnya bila kita melihat ke pengalaman yang lalu cukup banyak kasus-kasus korupsi dan kriminal yang tak tau juntrungan akhirnya gimana.

Sebenarnya nggak masalah jika media kemudian mengalihkan pemberitaannya pada kasus-kasus hangat lainnya, tapi yang jadi problema adalah apabila yang terjadi  kemudian akhirnya media menjadi “Dewa” yang berhak memutuskan benar atau tidaknya segala hal dimuka bumi ini. Apakah tidak ada cara lainnya untuk mengawal kebenaran suatu peristiwa itu selain media, jika kemudian netralitas media itu sendiri juga sudah tidak valid lagi? Ironis memang jika bobroknya kalangan birokrat dan politikus juga diikuti oleh carut-marutnya media pers.

Aku masih berharap suatu saat nanti kita semua tidak perlu lagi bergantung kepada media konvensional seperti saat ini. Khabar baiknya sekarang ini terlihat telah ada terobosan baru yang lebih independen dan netral, mau tau apa? Yup, itu lah yang disebut social media networking seperti Facebook, Twitter, dan lain-lain. Syukurlah sekarang ini telah lahir metode baru yang juga terbukti efektif dalam mengangkat suatu berita, hebatnya lagi netralitas serta obyektifitasnya pun lebih valid, akurat, dan terjamin keabsahannya. Hal ini sebabkan oleh karena adanya ikatan emosional yang lebih dalam diantara si pembuat berita dengan pembacanya, dikarenakan hubungan pertemanan itu sendiri. So, wahai media konvensional, siap-siaplah lengser karena kesombonganmu!